Memandang Kasus Berdasarkan Literasi Pariwisata
Berkaitan dengan Literasi Komunikasi
Pariwisata, peran netizen menjadi sangat vital. Bahkan semua
dapat menjadi objek wisata. Semua dapat di share di berbagai
media sosial (keburukan maupun kebaikan).
Pada
kesempatan kali ini, saya akan memberikan pandangan saya terhadap dua kasus
dibawah ini :
Kasus 1 :
Pada
gambar diatas, sangat terlihat dengan jelas perbedaan yang signifikan antara
keadaan biota bawah laut dimana foto sebelah kiri memperlihatkan kondisi
penyelam yang berfoto dengan banyaknya sampah yang ada disekelilingnya. Sementara
foto sebelah kanan memperlihatkan keindahan biota bawah laut yang memanjakan
mata dan menarik hasrat kita untuk mengunjungi tempat tersebut. Kedua foto
tersebut juga memiliki kesamaan yakni sama-sama dijadikan objek wisata dan diposting di sosial
media. Ini hal yang menjadi vital bagi netizen saat ini, dimana melalui sosial
media dan postingan terkait foto-foto objek wisata mampu memberikan gambaran
bahkan pengaruh. Kita menjadi tahu tentang adanya objek wisata bawah laut yang
keindahannya mampu menyejukkan mata dan kita jadi tahu bahwa ada hal lain yang
perlu kita ketahui tentang keadaan alam bawah laut yang mulai kotor dan
terkontaminasi dengan sampah sehingga pemandangannya sangat mengganggu kita
yang melihat dan dampak negatif untuk alam juga sangat mempengaruhi ekosistem
bawah laut.
Sementara,
beberapa pengunjung perlu melihat kondisi lokasi wisata yang akan mereka datangi
dan mereka akan melihat dari postingan sosial media terkait tempat tujuan yang
diinginkan. Apabila calon pengunjung melihat foto sebelah kanan, maka rasa
ingin mengunjungi lokasi wisata pasti semakin meningkat. Sedangkan apabila calon
pengunjung melihat foto sebelah kiri, siapa yang mau melanjutkan niat wisatanya
apabila keadaan objek wisata saja seperti itu. Postingan-postingan seperti ini
tentu akan mempengaruhi baik dalam hal positif maupun negatif yang kemudian menyambung
pada kasus kedua.
Kasus 2 :
Pada kedua gambar diatas memperlihatkan hiu paus tutul dalam keadadan yang sangat berbanding terbalik. Pada gambar kanan, hiu paus tutul diabadikan oleh penyelam dengan damai di perairan laut dalam sedangkan pada gambar kedua hiu paus tutul diabadikan oleh polisi dengan keadaan mengenaskan terdampar di tepi pantai. Persamaannya adalah kedua hal tersebut sama-sama dijadikan objek wisata oleh pengunjung. Yang menjadi hal vital adalah peran netizen dalam kasus ini. Semua hal dijadikan objek wisata dan semua hal bisa diposting dalam sosial media (kebaikan maupun keburukan).
Literasi komunikasi pariwisata
sangat diperlukan dalam kedua kasus ini. Kaitan dengan bidang pariwisata,
literasi menjadi bagian yang pentıng terutama dalam upaya menyampaikan kepada masyarakat
luas, menyampaikan ide, gagasan dan pemikıran terhadap informasi kepada suatu
pengelolaan destinasi wisata atau memberıkan solusı terhadap suatu permasalahan
yang terjadi. Dalam suatu penyampaiannya pun dapat beragam bisa melalui media
massa baik cetak maupun onlıne (daring). Inilah pentingnya Masyarakat sebagai salah
satu unsur pembangunan pariwisata dapat memahami hal-hal apa saja yang dapat
dijadikan sebagai objek pariwisata dan turut menjadi pelaku pelestarian wisata
tersebut.
Komentar
Posting Komentar